Aku dan pagi 2
07.15
Aku sampai di atas setelah menapaki 18 anak tangganya, jangan tanya rasa pegalnya karna jawabannya jelas iya.
Setelah mengatur nafas aku langsung menuju balkon. Aku akan mulai menyapu dari sini. Tidak membutuhkan waktu lama di bagian ini karna ukuran nya cuma 2m x 4m. Setelah bersih, segera kugelar permadani dan menata meja bundar dengan ukuran besar dan juga berat. Selesai.
Aku masuk ke dalam, mulai menyapu kembali tiga ruang kamar dan satu ruang yang luas yang biasa digunakan untuk sholat berjamaah, sapuan ku berakhir hingga ke Selasar belakang. Setelah selesai menyapu, kemudian mengosongkan keranjang sampah, memisahkan sisa kue dan bungkus camilan yang penuh di sana. Sampah plastik kumasukkan ke dalam kantong dan sampah sisa kue kubuang langsung ke tanah lewat selasar belakang di lantai dua. Kebetulan di bawah sana ada tumpukan serasah daun yang mulai terdekomposisi.
Aku kembali ke dalam untuk lanjut mengepel dan menata meja-meja kecil di ruang depan balkon, lalu menyusun meja-meja di dua ruang kamar yang kusulap menjadi kelas belajar, terakhir membentang permadani sajadah di ruang tengah lantai atas, sebelum turun ke lantai satu, kulirik meja yang berantakan, aku lupa pada bagian yang satu itu, maka segera kurapikan tumpukan buku, memilah level bukunya dan menata kembali alat tulis di atas meja. Alhamdulillah selesai, aku merasa sepertinya mulai bisa bersaing dengan Superman, bedanya Superman mungkin tidak mandi keringat dengan napas yang ngos-ngosan seperti aku saat ini.
Terdengar langkah-langkah kaki kecil menapaki anak tangga.
"Assalamu'alaikum tazah Bubun," sapa mereka.
"Wa'alaikumsalam Abang Ahza dan Abang Faraz," balasku. Dua anak kecil ini selalu bersaing untuk datang lebih awal, tampaknya kali ini mereka seri.
"Biar abang tebak, Bubun pasti belum mandi, kan?" ledek salah satu anak yang kupanggil bang Faraz.
Aku hanya bisa nyengir, karena tebakannya memang tepat. Sebelum turun aku berpesan kepada mereka untuk tidak berlari-lari, lantai baru saja selesai dipel, jadi tentu saja masih licin, khawatir mereka nanti terpeleset, mereka menanggapi dengan isyarat jempol lalu berjalan jinjit dengan lambat dan jari tangan yang meniru paruh bebek menuju ruang kelas. Mereka terlihat lucu sekali.
07.50
Sampai di akhir tangga seruan salam kembali terdengar. Ustadzah Sulastri dan anak-anak yang lain berdatangan kemudian menyapaku, aku membalas salam mereka dan menyembunyikan tangan menghindari tangan-tangan mereka yang mengulurkan salam.
“bubun ndak mau salaman dulu ya, tangan bubun kotor habis bersih-bersih lantai. Bubun ganti ini saja ya,” kataku sambil mengelus pelan jilbab dan peci mereka sambil mengucapkan, “Barakallah…, hati-hati naik tangganya, ya!” pesanku sambil melepaskan senyum pada wajah-wajah lucu mereka.
“Amma Sulas,”. Panggilku menghentikan langkah ustadzah Sulastri menaiki tangga.
“Iya Bun?” sahutnya sambil berbalik.
“Tolong bantu kue paginya, ya!” pintaku.
“Oh siap Bun…,” tegasnya, beliau tahu maksudku. Kue pagi adalah kegiatan murojaah hafalan bersama anak-anak.
Alhamdulillah, rumah ini kembali lebih hidup dan terasa lebih bermanfaat di masa pandemi seperti saat ini. Tak hanya sebagai tempat tinggal, tapi bisa menjadi tempat belajar anak-anak dari sekolah yang saat ini sedang diamanahkan kepadaku.
Lantai atas menjadi tempat belajarnya anak-anak kelas satu dan kelas dua SDIT, sedangkan lantai bawah menjadi tempat belajar anak-anak TKIT. Tentu saja sebelum pandemic, mereka melaksanakan kegiatan belajarnya di sekolah masing-masing.
Dua tahun yang lalu aku dan keluarga kecilku pindah ke kota sebelah untuk tujuan birull walidain sehingga rumah ini kosong, tak ada kehidupan. Setiap kali pulang untuk mengambil beberapa barang yang dibutuhkan, aku selalu sedih melihat kondisinya, apalagi ketika kudapati sarang-sarang tikus di dalam lemari pakaian anak-anak, rayap di tiang-tiang rumah dan atap yang mulai bocor di beberapa titik rumah. Setelah berdiskusi dengan suami, aku putuskan untuk menitipkan pengelolaannya ke Rumah Qur’an yang dikelola oleh seorang teman. Alhamdulillah kegiatan-kegiatan Rumah Quran sangat aktif, bahkan pengajian ibu-ibu di sekitar pantai juga diadakan di rumah ini. Setiap akhir pekan, santri-santri di Rumah Qur’an akan mabit di sini secara bergantian, jika pekan pertama santri ikhwan yang mabit, maka pekan kedua giliran santri akhwat yang mabit dan mereka sangat bahagia sekali jika jadwal mabit mereka tiba. Dari sinilah rumah ini kemudian memiliki nama specialnya, Villa Qur’an.
Ketika wabah Covid-19 mulai masuk ke daerah ini, semua kegiatan rutin di Villa Qur’an pun terhenti. Rumah ini kembali suram. Tak hanya itu, kegiatan belajar mengajar pun dihentikan di sekolah masing-masing dan mulai diberlakukan daring, sebagian orang tua merasa kewalahan dalam membantu proses belajar anak-anak mereka. Kemudian diawali dari teman-teman yang mengajar di TKIT, mereka meminta izin untuk menggunakan lantai satu Villa Qur’an sebagai tempat dan sarana untuk belajar.
Berjalan setahun aktivitas belajar mengajar teman-teman guru TKIT di Villa Qur’an, teman-teman guru di SDIT yang baru didirikan pun meminta izin untuk menggunakannya. Maka mereka pun membantu menghidupkan suasana di lantai atas, dengan jumlah siswa yang hanya ada 6 dari 10 siswa di awal tahun berdirinya, tentu saja itu memberikan kehidupan di rumah ini.
Jika ada waktu luang untuk pulang sebentar ke rumah, aku akan selalu membantu menyiapkan dan membersihkan ruang belajar mereka. Dan kegiatan bersih-bersih itu terbawa hingga sekarang.
“Bun…,” panggil kakak, anak perempuanku yang pertama membuyarkan lamunanku.
“Iya kak,” jawabku.
“Abang dan adek sudah kakak mandikan” jelasnya.
“Alhamdulillah…, makasih kakak, biar nanti bun lanjutkan kasih sarapannya,” jawabku.
Anak-anak mulai ramai berdatangan, begitu juga dengan ustadzah-ustadzahnya.
08.00
Alhamdulillah tepat waktu bersih-bersihnya, tapi aku terlambat untuk menyelesaikan laporan bulanan sekolah. Kelasku mulai pukul 08.30. Aku punya waktu setengah jam untuk menyelesaikannya, semoga bisa.
“Kompornya tadi sudah kakak padamkan juga.” jelasnya.
Aku baru teringat dengan tugasku di dapur. Ya Allah…,😱 aku kapok kalau bangun tidur dengan waktu yang pas-pasan begini. Tentu saja aku harus disiplin dengan alarm yang sudah kuatur.😔.
Laporan ku...oh tidak😩
Hahaha kayak aku banget sih, hari-hari hectic dengan tugas rumah tangga ga selesai2. Tau2 udah jam sekian aj, eh buru-buru dah, gelagapan wkwk
BalasHapusiya mba keringatannya kayak bakar lemak banget. padahal kalau ditimbang ndak ada yang ilang se-ons pun. hahahaha
Hapus