Aku dan Pagi 1

04.00

Jam beker mulai bereaksi. Sayup suaranya semakin  keras dan mulai mengganggu ruang mimpiku. Suara khas azan Madinah, Aku mulai sadar walau mata masih enggan terbuka. Ada pikiran jahil melintas. 


04.25

"Ya Allah aku ingin tidur. Turunkanlah hujan-Mu yang lebat agar ada tambahan waktu rebahan untukku" batinku, masih dengan kantuk yang bergelayut.

"Astagfirullah..., kenapa aku ini?" gerutuku pada diri sendiri.

Alunan syahdu azan itu hampir habis. Seketika bayangan seluruh agenda pagi menyerangku seakan seperti mengancam "bangun sekarang kalau tidak habislah kau!" 

Ada sapu yang menungguku, debu di lantai atas dan bawah juga sudah menggoda.

Berikutnya ada cucian yang sudah direndam semalaman dalam mesin cuci, aromanya jika dibayangkan dalam gambar kartun mungkin seperti berwarna hijau yang mengeluarkan asap.

Ada juga tumpukan cucian piring yang siap menagih janjiku semalam, mereka minta dimandikan segera dengan busa yang melimpah.

Laptop pun tak kalah garangnya mengingatkan bahwa pagi ini laporan bulanan juga harus disiapkan.

Ampuh..., ampuh sekali serangan dan ancaman mereka, membuat mataku terbuka. 

Aku bergegas bangun untuk duduk lalu berdiri, sekilas kulihat jam bekerku jatuh ke lantai meninggalkan  posisi awalnya yang kini berganti dengan bantal. Aku tak sadar telah melemparnya dengan bantal hingga berhenti berbunyi karena jatuh. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi.


04.55 

Aku sudah di atas sajadah. Semoga para malaikat belum berganti shift sehingga masih bisa menyaksikan ibadah  wajibku pagi ini. 

Usai sholat, bayangan pendemo yang berhasil membangunkanku tadi kembali datang melintas, aku hampir panik. Tapi ruhku harus sarapan terlebih dulu, ini energi penting untuknya beraktivitas seharian nanti.


05.50 wib

Almatsurah dan Qur'an mungil kututup. Alhamdulillah satu agenda selesai. 

Segera kudatangi sapu, tapi tak kutemukan dia yang selalu rebahan di lantai dapur, biasanya dapur adalah tempatnya beristirahat. Aku menyisir ruang lainnya tapi tak ada. Jika ia bisa bicara akan kupanggil namanya. 

"Sambil mencarinya, aku akan membuka jendela dan tirai," pikirku.

Tirai ruang tengah kubuka dan ada suara keras yang jatuh menimpa lantai keramik rumah. 

"Tenyata dia di sini," gumamku, Ijuk hitamnya melengkung. Aku kesal melihatnya. Jika posisi menyandarkannya berdiri, itu akan merusak ijuk hitamnya. 


06.20

Aku mulai berlomba dengan waktu. Kumulai dari lantai bawah. Ruang depan. Lego dan bola-bola kecil menghiasi lantai, segera kupungut dan mengembalikan ke tempatnya. Aku siap menyapu dari luar ke arah dapur.


06.40

Aku tiba di dapur. Kelokan rumah ini tak banyak , hanya saja luasnya yang membuat lelah, mencari kumpulan pasir dan debu berserak yang tertiup angin dari pantai di depan rumah, ini yang  memakan banyak waktu untuk membersihkannya.

Kurebahkan sapu di lantai, itu membantunya meluruskan ijuknya yang sempat melengkung karena didirikan semalaman.

Kunyalakan mesin cuci, memindahkan pakaian di dalam tabung penggiling ke tabung pengering, dan mengisi air untuk membilasnya nanti. Sambil menunggu tabung penggiling terisi, aku menangkap kuali dan mengisinya dengan dua canting beras untuk kemudian segera dicuci. 

Selesai meletakkan kuali di atas kompor, aku kembali menutup keran air di mesin cuci dan memindahkan pakaian dari dalam tabung pengering yang sudah berhenti berputar ke tabung di sebelahnya dan kembali kuputar lagi tombol timernya. 

Aku lanjut ke tumpukan piring kotor. Sebelum mulai, kulirik jam di dinding. Aku tak punya banyak waktu, jadi hanya bisa memisahkan sampah sisa makanan di piring dan wadah lainnya saja terlebih dahulu. Sisa makanan kumasukkan ke ember yang sudah disiapkan, kemudian memasukkan sampah plastik sisa cemilan dan mie instan ke dalam keranjang sampah tertutup yang terletak di sampingnya, ini kesepakatan yang sudah kujalani selama 12 tahun pernikahan. Maklum, aku menikahi seorang aktivis lingkungan, masalah sampah itu tidak bisa disepelekan, jika tidak dimulai dari dalam rumah maka jangan harap ada perubahan di mayarakat. “Itu yang disebut proses,” kata suamiku. 

Kemudian aku mengelompokkan piring dengan piring, gelas dengan gelas, mangkuk dengan mangkuk, sendok-sendok  dalam satu tempat. Lalu panci, periuk, teflon dan kuali dalam satu kelompok. Oke…, kutinggalkan mereka sebentar. Kalau sudah disusun begini, maka membersihkannya akan lebih mudah, sesuai urutan perabotannya. Lalu kutinggalkan tumpukan piring kotor yang sudah rapi untuk memadamkan api kompor, setelah memindahkan nasi ke dandang pengukus, kunyalakan lagi kompor dengan api sedang. 

Aku kembali menangkap sapu yang sudah mulai agak lurus ijuk hitamnya. Lalu naik ke lantai atas dengan setengah berlari.


.....................................

Komentar

  1. Baru bangun dari tidur, jadwal padat sudah menanti ya KakšŸ˜…

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MUDACIL Masjid Kapal Munzalan 3

TERJEBAK (bag.1)

MUDACIL Masjid Kapal Munzalan 2