terjebak (bag.2)
Namanya Nana, aku memanggilnya kak Na, sudah tiga hari aku jadi pelanggan tetap pentol kuah nya yang berbahan dasar daging ayam. Dan sudah empat hari ini iya berjualan di gerobak yang sebelumnya digunakannya untuk berjualan kue. Moon yang awalnya mengajakku kesini. Moon memang supel, dia mudah akrab dengan orang baru. selama dua bulan kutinggalkan Moon dan usaha mozarella yummy kami, moon punya teman dan tempat baru untuknya wara wiri kalau kios nya sedang sepi.
Singkat perkenalan
kami dan aku langsung merasa dekat dengan nya, wanita yang berpostur mungil,
kurus lebih tepatnya. Penampilannya sederhana dan tanpa riasan diwajah seperti
wanita pada umumnya. Ia berasal dari Palembang. Orangtua, saudara dan keluarga
besarnya berada disana.
Disini ia
tidak memiliki keluarga satu pun, bahkan menuju ke daerah ini, Ketapang, sebuah
kabupaten di Kalimantan Barat ia hanya bermodalkan info dari seorang teman
pengajiannya yang dulu pernah tinggal beberapa waktu di ketapang. Aku sedikit
bingung setiap kali bertanya kok bisa kakak memilih Ketapang, perantau biasanya
memilih kota besar yang ada di pulau atau di propinsi tujuannya. Kalau pilihannya
Kalimantan Barat harusnya tujuannya Pontianak apalagi untuk memulai usaha.
Mengontrak di kios
kecil, membuka jasa pengetikan komputer dan berjualan pentol kuah sebagai
sampingan nya. Sambil menunggu orderan ketikan di kiosnya yang terletak di
ujung gang kecil ia berjualan pentol
kuah nya di depan gang. Mungkin aku terlalu kepo tapi aku yakin siapapun pasti bingung dan
ingin tau alasannya memilih tempat usahanya sekarang. Bahkan Moon dengan
gampangnya nyeletuk “ kak nana nih milih tempat ngerantau pakai sistem kocok kayak arisan kak ika, mane name
daerah yang keluar dari botol tuh, itulah tujuannye, gian am” jelas mona dengan
bahasa ketapangnya yang kental diiringi suara ketawanya yang serak. Dan beliau
tau kalau aku bingung dan penasaran tanpa perlu aku bertanya ia menjanjikan
jawabannya nanti kalau ia sudah siap untuk bercerita. Lalu pembicaraan seru
kami selanjutnya, ia minta bantuan untuk dicarikan tempat pengajian halaqoh
seperti di daerah asalnya.
“ngaji dengan
moon jak kak nana” sambar moon
“ndak ah,
ngaji sama kamu nanti yang di bahasnya masalah jualan terus, pusing aku” tolak
kak Na yang dibalas tawa sama Moon.
“eh ndak ada
salahnya kali kak” potongku. “ kita bisa ajak Bik Lilis sekalian, lumayan udah
empat orang nanti ajak lagi bik sarah yang jual gorengan di dekat pasar sore,
nanti biar ika yang tanyakan ke ustadzah yang biasa mengisi pengajian pekanan mamak mertua, siapa tau
beliau punya waktu kosong untuk membina kelompok pengajian baru ”. Usul ku.
Mendengar penjelasan
ku yang serius, moon langsung motong omongan.
“ Ndak ah, moon
lama tak ngaji, malu nanti bacaannye jelek”. Sembari beranjak dari duduknya dan
meninggalkan aku dan kak Na.
“yeeee kok
malah kabur, katanya tadi mau ngajak aku ngaji”. Ledek kak Na
“pulang lok,
kios ku kosong” teriaknya sambil menyebrangi jalan.
“wah dasar
bocah” heran kak na.
“eh ka benaran
ya bantuin aku cari kelompok pengajian yang ndak Cuma belajar ngaji tapi ada
kajian-kajian materi keislamannya juga, kering nih ruh ku, lebih kering dari
jasadku yang kurus kering” . pesannya pada ku.
“iya kak,
Insyaallah nanti ika tanyakan ke teman–teman”. Jawabku.
Aku mendatangi
gerobak pentol kuah kak Na, sudah sepekan aku tak mengunjunginya. Dan sudah
sepekan juga kios ku tutup, aku harus membantu ayah mertua mengerjakan pesanan
gigi tiruan pasiennya yang lumayan banyak, ujung –ujung kuku jari ku sampai ada
yang rusak karena sesekali terkena mata canai saat menghaluskan lak gigi
tiruan.
“assalamualaikum
kak” sapaku
“wa’alaikumussalam”
jawabnya
“eh udah balik
lagi ya, udah selesai kerjaannya? gimana kabar mertua sehat? “ tanyanya yang
kujawab singkat “udah selesai kak, Alhamdulillah beliau sehat”. Jelasku
“ika udah
dapat nih kelompok pengajian untuk kakak” nanti ika kirim ke wa saja ya kontaknya.
“alhamdulillah” sambutnya.
Sejenak kami
terdiam melihat lalu lalang kendaraan bermotor, lalu tiba-tiba anak bungsunya
datang mengantarkan Hp miliknya yang tertinggal di kiosnya. Anak kecil itu kembali
berlari masuk ke gang kecil. kak Na membuka cerita “itu anakku yang nomor tiga,
abangnya yang paling tua sekarang ada dipesantren, dijawa”jelasnya.
“yang nomor dua
dimana kak” tanyaku.
“tiga bulan
yang lalu meninggal” jawabnya dengan raut wajah sedih
“innalillahi
wa inna ilaihi rodjiun, maaf kak” kejar ku.
Ia mengaku
terlambat mengobati penyakit yang diderita anaknya, hampir satu bulan ia harus
keluar masuk dan berganti rumah sakit untuk mengobati kangker darah putranya yang
sudah memasuki stadium tiga. Ia tak terlalu mengerti penjelasan medis tentang
level kangker itu. Dan dalam hitungan satu bulan, toko komputer yang ia miliki
dari usaha awalnya membuka jasa pengetikan yang terletak di dekat kampus
ternama di Palembang yang di bangunnya bersama
suami, rumah megah dan tiga mobil yang di rentalkannya habis untuk membiayai
pengobatan sang anak tercinta. Sampai pada batas kemampuannya ia harus menerima
kenyataan bahwa sang buah hati harus kembali kepada Allah.
“Hanya
sembilan tahun saja ternyata kesempatanku, Allah menitipkan amanah-Nya kepadaku
hanya sembilan tahun saja. Dan Allah Maha Baik ka. Lewat anak ku aku
dibersihkan Nya dari dosa Riba”. Jelasnya pada ku dengan suara yang mulai
parau.
Bersambung.....
Ceritanya keren, nggak mudah ditebak. Semangat menulis kakak. Belajar dan terus belajar.
BalasHapusinsyaallah bund
Hapussaat dpat ujian kita merasa berat, tapi itu salah satu cara Allah untuk memutihkan dosa kita insyaAllah
BalasHapusdalem banget
HapusPlot twist sekali ceritanya
BalasHapusSetiap orang punya ujiannya masing2 sesuai levelnya. Salut tuk Kak Na
BalasHapus